Kenyamanan dan kebersihan merupakan hal penting yang dapat menentukan kepuasan tamu hotel. Namun, upaya menjaga kualitas layanan tidak hanya sebatas membersihkan kamar penginapan, tetapi juga memastikan lingkungan hotel bebas dari gangguan hama seperti kecoa, tikus, lalat, maupun kutu kasur (bed bug).
Hama muncul dapat menimbulkan berbagai masalah, mulai dari keluhan tamu, kerusakan fasilitas, hingga risiko penurunan reputasi hotel. Maka dari itu, deteksi dini menjadi langkah baik untuk mencegah infestasi hama pengganggu berkembang lebih luas dan sulit dikendalikan.
Dalam proses ini, housekeeping memiliki peran yang sangat strategis. Sebagai staf yang setiap hari berinteraksi langsung dengan kamar dan berbagai area hotel, mereka sering kali menjadi pihak pertama yang berpotensi menemukan tanda-tanda keberadaan hama.
Jenis-Jenis Hama yang Umum Ditemukan di Hotel.
Tidak banyak yang menyadari, hotel menyediakan berbagai fasilitas yang dapat mendukung aktivitas hama. Apabila kebersihan dan pemantauan lingkungan tidak dilakukan secara optimal, berbagai jenis hama dapat muncul dan mengganggu kenyamanan tamu.
Salah satu hama yang paling sering menjadi perhatian industri perhotelan adalah kutu kasur (bed bug). Serangga ini dapat bersembunyi di lipatan kasur, celah furniture, dan area sekitar tempat tidur, kemudian menggigit tamu saat malam hari sehingga menimbulkan keluhan dan ulasan negatif terhadap hotel.
Kecoa juga menjadi hama yang umum ditemukan di hotel. Beberapa spesies yang sering dijumpai antara lain Blattella germanica dan Periplaneta americana. Keberadaan kecoa dapat menurunkan standar sanitasi karena berpotensi membawa berbagai mikroorganisme kontaminan pembawa penyakit.
Tikus merupakan hama lain yang perlu diwaspadai karena dapat merusak banyak barang di hotel seperti kabel, furniture, serta mencemari makanan dan lingkungan dengan urin maupun fesesnya. Spesies yang umum ditemukan di bangunan komersial meliputi Rattus norvegicus dan Rattus rattus.
Di area restoran, dapur, atau tempat pengelolaan sampah di hotel, lalat juga sering menjadi masalah. Kehadiran lalat, terutama Musca domestica, dapat mengindikasikan adanya masalah sanitasi dan berpotensi menyebarkan mikroorganisme ke permukaan makanan maupun peralatan makan.
Pada beberapa hotel yang memiliki fasilitas taman, kolam, atau area dengan genangan air, nyamuk juga dapat berkembang biak. Selain mengganggu kenyamanan tamu dengan gigitannya, beberapa spesies nyamuk diketahui berperan sebagai vektor penyakit sehingga keberadaannya perlu dikendalikan melalui pengelolaan lingkungan yang baik.
Housekeeping sebagai Garda terdepan Pemantauan Hama.
Tugas housekeeping secara rutin tidak hanya menjaga kebersihan, tetapi juga melakukan pengamatan terhadap kondisi lingkungan hotel. Saat membersihkan kamar, mengganti linen, atau merapikan furniture, staf housekeeping memiliki kesempatan untuk menemukan indikasi awal adanya hama.
Deteksi dini akan memberikan manfaat maksimal apabila didukung oleh langkah pencegahan yang konsisten. Housekeeping berkontribusi melalui kegiatan rutin seperti menjaga kebersihan area hotel, mengelola sampah dengan baik, serta mengurangi sumber makanan dan tempat persembunyian yang dapat menarik hama.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain keberadaan serangga hidup atau mati, kotoran tikus, telur serangga, kulit pergantian instar, serta noda mencurigakan pada kasur atau furniture. Pada kasus bed bug, keberadaan bercak fekal dan serangga pada lipatan kasur merupakan indikator yang sering ditemukan saat inspeksi.
Peran ini sangat penting karena infestasi yang masih berada pada tahap awal umumnya lebih mudah ditangani. Menurut kajian mengenai pengendalian bed bug pada fasilitas akomodasi, deteksi dini dapat mengurangi penyebaran infestasi, menekan biaya pengendalian, dan melindungi citra hotel.
Housekeeping juga berperan dalam mendokumentasikan dan melaporkan temuan kepada supervisor atau tim pengendalian hama yang akan membantu langkah selanjutnya. Praktik ini memungkinkan area hotel yang dicurigai terinfestasi segera diperiksa lebih lanjut dan, jika diperlukan, dikeluarkan sementara dari operasional hingga proses pengendalian selesai.
Karena itu, housekeeping dapat dianggap sebagai salah satu lini pertahanan pertama dalam program manajemen hama hotel. Melalui inspeksi rutin, pelaporan yang cepat, dan penerapan praktik kebersihan yang baik, mereka membantu menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, serta mendukung citra positif hotel di mata tamu.
Untuk menjalankan peran tersebut secara lebih efektif, staf hotel perlu memahami dasar-dasar deteksi hama, tanda awal infestasi, serta alur pelaporan yang tepat. Pengetahuan ini penting agar temuan kecil di kamar, area servis, dapur, atau ruang penyimpanan tidak berkembang menjadi masalah besar yang berdampak pada kenyamanan tamu dan reputasi hotel.
Melalui Pelatihan Pengendalian Hama di Ahlihama, peserta dapat mempelajari cara mengenali tanda-tanda keberadaan hama, memahami titik risiko di lingkungan hotel, serta menerapkan langkah pencegahan berbasis pengendalian hama terpadu. Pelatihan ini cocok untuk staf housekeeping, supervisor hotel, pengelola fasilitas, maupun tim operasional yang ingin meningkatkan kesiapan dalam mencegah dan menangani risiko hama sejak dini.
Author: Dherika
Editor: Keny
Referensi
Doggett, S. L., Dwyer, D. E., Peñas, P. F., & Russell, R. C. (2012). Bed bugs: clinical relevance and control options. Clinical microbiology reviews, 25(1), 164–192. https://doi.org/10.1128/CMR.05015-11.
Jaya, R., Hanafi, H., & Yudi, V. (2024). Penerapan Metode Integrated Pest Management (IPM) sebagai Pendekatan Berkelanjutan dalam Mengontrol Hama di Industri Perhotelan. Action Research Literate, 8(10), 2879-2896.

